header

header
aceh
  • Latest News

    Thursday, March 18, 2021

    Teuku Moehammad Hasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ke-7 masa jabatan 1948-1949

    Teuku Moehammad Hasan
    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ke-7 masa jabatan 1948-1949

    Mr. Teuku Muhammad Hasan dilahirkan pada tanggal 4 April 1906 di Gampong Peukan Sot, sebuah kampung yang terletak kira-kira 2,5 km dari kota Sigli yang sekarang menjadi ibukota Daerah Tingkat II Kabupaten Pidie, Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Ayahnya bernama Teuku Bintara Pineung Ibrahim bin TBP Po Itam bin TBP Sigee, seorang uleebalang kenegrian Pineueng dan 
    Raja Peukan Baro, sebuah kota pelabuhan di perairan Selat Malaka yang ramai disinggahi kapal-kapal 
    asing sebelum pelabuhan Sigli dibuka oleh pemerintah Kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Ibunya bernama Cut Manyak binti Teuku Muhammad (Teungku di Bubue).

    Sebagai anak seorang uleebalang TM Hasan diasuh dan dididik agar pada saatnya nanti dapat menjadi 
    seorang uleebalang pengganti ayahnya yang berwibawa dan bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan rakyat di daerahnya. Sehubungan dengan itu pula TM Hasan diberi kesempatan seluas-luasnya bergaul dan bermain dengan anak-anak sebayanya, yang tidak hanya berasal dari kalangan keluarga uleebalang, tetapi juga dari kalangan rakyat biasa agar dapat lebih mengenal lingkungan kehidupan dan aspirasi rakyat kecil yang kelak dipimpinnya. 

    Karena itu tidak mengherankan apabila setiap saat ia bermain dengan gembira bersama anak-anak orang biasa di sepanjang pinggir jalan ataupun berenang di Sungai Krueng Beurebo ketika tinggal di rumah buluko Gampong Sukon. Setelah pindah ke Rumah Sagoe di Keudee Baro ia juga bermain dengan teman-teman sebayanya di kali kecil di tengah sawah di antara para petani yang sedang membajak sawah. Setelah meningkat remaja ia bersama dengan para pemuda di kampungnya sering berburu binatang di hutan pinggir kampung, sehingga kebiasaan berburu itu menjadi salah satu hobinya sampai dewasa. Ia sering menembak babi dan elang yang selalu mengganggu tanaman dan binatang peliharaan penduduk kampung. Dalam hal berburu ia memperoleh pelatihan ayahnya, bahkan juga belajar membuat peluru sendiri, karena berburu merupakan tradisi 
    kaum bangsawan Aceh pada zaman itu. Demikian pula ia sering diajak berjalan kaki ayahnya ke sawah 
    untuk mengawasi pengairan, terutama dalam pembagian air sawah agar merata bagi setiap petani, bahkan ia juga ikut bertanam tembakau disawah atau memangkas tembakau di perkebunannya diantara para petani sekampungnya

    Hasan masuk ke sekolah Belanda Volkschool (Sekolah Rakyat) sebagai layaknya seorang anak uleebalang
    pada masa itu yang berhak bersekolah disekolah Belanda di Lampoih Saka, ibukota Kecamatan Peukan Baro sekarang, pada tahun 1914 ketika umurnya menginjak 8 tahun. Beberapa bulan kemudian ia meninggalkan sekolah itu dan baru pada tahun 1915 orang tuanya mengantarkannya kembali ke sekolah tersebut. Sejak itu ia belajar dengan tekun. Ia cepat menguasai pelajaran, terutama pelajaran berhitung, salah satu pelajaran 
    yang dianggap cukup penting pada masa itu. Selain itu pelajaran huruf Arab bahasa Melayu dalam bahasa 
    Aceh sering disebut huruf Jawi atau Jawoe juga bukan mata pelajaran yang sukar baginya, sebab ia sudah 
    belajar sejak masa kanak-kanak pada guru agama, terutama pada neneknya sendiri, Cut Halimah.

    Setelah tujuh tahun bersekolah di ELS (1917-1924) Hasan ditawari ikut ujian masuk Koningen Wilhelmnia 
    School (KWS) di Batavia. Ia menerima tawaran tersebut, meskipun seandainya tidak mengikuti ujian di Batavia ia dapat melanjutkan sekolah Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) di Kutaraja tanpa perlu mengikuti ujian. Pada tahun 1924 Hasan meninggalkan kampung halamannya pergi ke Batavia, tetapi sebelum pergi ia dinikahkan dengan sepupunya, Pocut Hijo, anak pamannya, Teuku Manyak atau 
    dikenal dengan Teuku di Tiba. TM Hasan dan Pocut Hijo menikah di Kuta Tuha, di rumah kediaman 
    pamannya. Penduduk desa meramalkan bahwa barangsiapa menikah di Kuta Tuha kelak akan menjadi orang besar dan ternama. Pada saat mendengar ramalan penduduk desa tersebut TM Hasan hanya mengucapkan “Amin”.

    Berkat semangat belajar yang tidak kenal menyerah TM Hasan berhasil mewujudkan cita-citanya. Pada tahun 1927 ia berhasil meraih ijazah MULO melalui ujian ekstranei di Bandung, ijazah KWS tempat ia terdaftar secara resmi sejak kelas satu diperolehnya pada tahun 1928, dan pada tahun 1929 ia mengikuti ujian ekstranei AMS di Batavia dengan hasil memuaskan. Dengan demikian selama lima tahun TM Hasan berhasil memperoleh tiga ijazah sekolah menengah, suatu prestasi yang sangat membanggakan.

    Dengan ijazah yang dimilikinya sudah tentu tidak mengalami kesulitan bagi TM Hasan memasuki salah satu sekolah tinggi. Masalahnya ialah bidang studi apa yang harus dipilih sesuai dengan bakat dan cita-citanya. Setelah dipertimbangkan masak-masak, terutama dikaitkan dengan tugas-tugas kepemimpinan dimasa depan, akhirnya ia memilih memperdalam ilmu di bidang hukum. Maka pada tahun ajaran 1929/1930 ia mendaftarkan diri pada Rechtshoogeschool ‘Sekolah Tinggi Hukum’ di Batavia. Seperti ketika belajar di sekolah menengah, ia tidak menemui kesulitan berarti dalam mengikuti kuliah. Dengan mudah ia dapat mengikuti semua mata pelajaran yang diharuskan selesai pada tingkat pertama. Pada 
    tahun 1930 ia lulus tingkat Candidaat I ‘ijazah tingkat persiapan’. Demikian pula pada kuliah tingkat berikutnya. Tahun 1931 ia lulus Candidaat II ‘sarjana muda’. Setelah berhasil meraih gelar sarjana muda di Rechthoogeschool ia berhasrat melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda, pada tingkat doktoral (sarjana hukum) di Rijks Universiteit Leiden

    Sesuai rencana pada bulan September 1931 TM Hasan meninggalkan kampung halamannya dengan diantar oleh sanak keluarga. Ia ke Kutaraja untuk seterusnya naik kapal di Pelabuhan Sabang. Ia menumpang kapal Willem Ryus dari maskapai pelayaran Belanda. Di atas kapal ia berjumpa dengan Teuku Tahir, anak Teuku Chuk Muhammad Thayeb, Uleebalang Pereulak, bekas anggota Volksraad dan seorang tokoh pergerakan yang disegani dan ditakuti oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Teuku Tahir akan melanjutkan pendidikan ke Fakultas Teknik Delft, Negeri Belanda.

    Tak beberapa lama berselang setelah tiba di Negeri Belanda TM Hasan mendaftarkan diri sebagai 
    mahasiswa bidang Indische Recht Fakultas Hukum Rijks Universiteit Leiden. Adapun mata kuliah yang 
    wajib diikuti sehubungan dengan bidangnya itu meliputi Hukum Adat, Hukum Perdata, Hukum Dagang, 
    Hukum Acara Perdata, Sejarah Islam, Bahasa Jawa, Bahasa Melayu, Bahasa Arab, Tafsir Al-Quran, 
    dan Tafsir Surat kabar. Semua mata kuliah tersebut diperlukan untuk menempuh ujian sarjana guna 
    memperoleh gelar Meester in de Rechten (Mr.). Selain itu ia masih mengikuti beberapa mata kuliah yang sebenarnya hanya sekadar menambah atau memperluas pengetahuan saja, yaitu Hukum Antar Bangsa, Filsafat, Ilmu Kepolisian, dan Parapsikologi. Mata kuliah-mata kuliah tersebut diperlukan apabila tiba saatnya ia terjun ke masyarakat. Salah satu guru di universitas tersebut Prof. Dr. Snouck Hurgronje (mata kuliah Tafsir Al-Quran). Seperti dimaklumi guru besar tersebut dikenal luas di Indonesia, setidak-tidaknya di kalangan para ilmuwan. Ia menjadi arsitek penaklukan Aceh dan pernah bergaul dengan ayah TM Hasan, TBP Ibrahim, pada waktu bertugas di Pidie tahun 1898.

    Selain dapat menimba sejumlah pengalaman dan ilmu pengetahuan di Negeri Belanda, TM Hasan juga 
    dapat berkenalan dengan sejumlah pemuda dan mahasiswa Indonesia, terutama dengan mereka yang gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, antara lain Achmad Soebardjo, Ichsan, Maria Oelfah, 
    Siti Sundari, Mas Soelaiman, Prijono, Darsono, Oetojo Ramelan, Tjokrohadisoemarto, Aboetari, dan 
    R. Soekanto (dari Pulau Jawa), Rustam Effendi yang menjadi anggota Parlemen Belanda, Nasrun, dan Mohammad Hatta (dari Sumatera Barat), Sutan Gunung Mulia dan Luat Siregar (dari Tapanuli), Tengku Djalaluddin dan Ildrem (dari Sumatera Timur), Tajuddin Noor (dari Kalimantan); dan masih banyak lagi.

    Rupanya apa yang dilakukan TM Hasan tidak terlepas dari pengawasan pihak Belanda. Oleh karena itu sewaktu tiba kembali di Pelabuhan Ulee Lheu Kutaraja, semua bukunya disita untuk pemeriksaan karena dicurigai terdapat buku yang berkait dengan paham pergerakan dan membahayakan kedudukan Pemerintah Kolonial Belanda, khususnya Aceh. Buku-buku tersebut kemudian dikembalikan setelah melalui proses pemeriksaan yang lama.

    TM Hasan mendirikan Perguruan Taman Siswa di Kutaraja pada tanggal 11 Juli 1937. Dalam kepengurusan lembaga yang diprakarsai oleh Ki Hajar Dewantara itu ia menjadi ketua, sementara 
    Teuku Nyak Arief menjadi sekretaris. Sesaat setelah pembentukannya, Hasan mengirim utusan, Teuku 
    M. Usman el Muhammady, menemui Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta untuk memohon agar Taman 
    Siswa memperluas jaringan dengan mendirikan cabang di Aceh. Majelis Luhur Taman Siswa mengirim 
    tiga orang guru ke Aceh, yaitu Ki Soewondo Kartoprojo beserta istrinya yang juga sebagai guru Taman Siswa dan Soetikno Padmosoemarto. Dalam waktu relatif singkat, TM Hasan dan pengurus Taman Siswa di Kutaraja berhasil membuka empat sekolah Taman Siswa di Kutaraja, yaitu Taman Anak, Taman Muda, Taman Antara, dan Taman Dewasa. Pada saatnya, berkat pengalaman di bidang pendidikan, TM Hasan memutuskan pergi ke Batavia dan bekerja sebagai pegawai di Afdeling B, Departemen Van Onderwijsen Eiredeienst (DepartemenPendidikan)

    Pada tahun 1938 Mr. TM Hasan dipindahkan ke Medan sebagai Adjunct Refrendarist pada kantor 
    Gouverneur van Soematra ‘Kantor Gubernur Sumatera’ bagian Algemmene Zaken en Wetgeving. Di tempat kedudukannya yang baru ia tetap giat berusaha sejauh kemampuan dan kesempatan yang diumungkinkan untuk kemerdekaan bangsanya. Dalam hubungan kerja di kantor gubernur ia sering berhadapan dengan Dr. Beck, residen yang diperbantukan pada Kantor Gubernur Sumatera. Pada suatu perjumpaan Beck mengkritik secara tajam kaum nasionalis yang secara gigih memperjuangkan nasib bangsanya di Volksraad. Menurut Beck, apa yang mereka tuntut, yaitu kemerdekaan, belum masanya diberikan sebab rakyat Indonesia sebagian besar masih dalam kebodohan, sedang kaum terpelajar masih terbatas sekali. Kalaupun 
    diberikan mereka tidak akan mampu mengendalikan pemerintahan di alam kemerdekaan. TM Hasan 
    menjawab melalui suatu pernyataan: “Apakah tidak lebih baik apabila Pemerintah Belanda merencanakan 
    dan sekaligus menjanjikan untuk memberikan kemerdekaan pada bangsa Indonesia dalam batas waktu tertentu, umpamanya dalam waktu sepuluh tahun mendatang, dan selama masa tenggang itu bangsa Indonesia secara intensif disiapkan untuk tenaga-tenaga ahli, khususnya di bidang pemerintahan, seperti kontrolir (wedana), asisten-residen, residen, gubernur, dan sebagainya. Dengan cara begini pertentangan dan kesenjangan yang terjadi selama ini antara Pemerintah Belanda di satu pihak dan para pemimpin Indonesia di pihak lain dapat dihindari.” Beberapa hari kemudian TM Hasan dipanggil oleh Sekertaris Gubernur Sumatera Mr. Nolting. Ia diperintahkan untuk tidak mencampuri dan melakukan kegiatan politik. Peringatan itu diberikan Nolting atas nama Gubernur Sumatera.

    Bersambung (kriting tangane 😂)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Teuku Moehammad Hasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ke-7 masa jabatan 1948-1949 Rating: 5 Reviewed By: Jass
    Scroll to Top