header

header
aceh
  • Latest News

    Friday, January 1, 2021

    Kerajaan Peureulak Merupakan Kerajaan Islam Pertama Di Aceh

    Sebelum islam masuk ke aceh, di pereulak telah berdiri sebuah kerajaan, yaitu ketutrunan dari raja raja siam (syahir Nuwi) pada tahun 173 H (800M) dibandar Pereulak berlabuh kapal pedagang yang membawa saudagar dari teluk kambay(gujarat) dinahkodai oleh nahkoda khalifah.

    selain menjadi saudagar, pedagang tersebut juga berperan sebagai muballigh, yang berdakwah agama islam. dengan usaha mereka, maka masuk islam lah sebagian besar penduduk kerajaan pereulak.
    dalam jangka waktu kurang dari setengah abat, dipereulak telah terorganisasi masyarakat islam yang terdiri dari orang-orang keturunan penduduk pribum, campuran peranakan arab,persia dan gujarat. karena mereka relah bersatu maka masyarakat islam tersebut memproklamirkan berdirinya kerajaan islam pereulak pada 1 muharram 225 H (tahun 840M) dan menurut literatur sejarah disinilah perkembangan Islam pertama dibumi tanah rencong.......

    nah pereulak adalah kota dan daerah pertama di asia tenggara yang menjadi pusat penyebaran islam dimasa itu dan daerah pertama juga diaceh yang menjadi/menganut ajaran islam serta berdirinya kerajaan islam

    bisa dikatakan kalo pereulak adalah pusat ajaran agama Islam dan sebuah daerah yang maju dengan sebutan BANDAR PEREULAK..

    nah rekan rekan gimana menurut kalian semua coba kita bandingkan dengan sekarang apakah masih ada bekas daerah islam yang kaffah di Aceh?

    Kerajaan Peureulak Riwayatmu Kini (bagian 1 dari 2 tulisan)

    Mata uang kerajaan

    Sebagian mata uang kerajaan Peureulak yang ditemukan kembali oleh warga. Mata uang itu
    menyebutkan nama raja pada tahun memimpin dan khas keislaman. Kini mata uang itu juga dipajang di stand Aceh Timur di PKA 5 di Banda Aceh. SERAMBI/ ISKANDAR USMAN

    SITUS peradaban peninggalan kerajaan Peureulak kini seakan terlupakan. Setelah meninggalnya Arifin Amin dan Ali Hasjmy, dua tokoh yang sempat menggagas pembangunan Monument Islam Asia Tenggara (Monisa) di Peureulak, kini situs peninggalan sejarah yang menandakan kebesaran kawasan Peureulak itu mulai kurang diperhatikan.

    Kawasan kerajaan yang dikenal dengan sebutan Bandar Khalifah (tempatnya para raja) tidak lagi berbekas sama sekali. Tulisan pada makam-makam para raja terus memudar. Bahkan, sejumlah makam dengan pahatan tulisan kuno telah longsor ke sungai. Sisa-sisa kebesaran Kerajaan Peurelak kini nyaris hilang semua. Padahal, sejarah Peureulak tempo dulu dikenal dengan khazanah budaya Islamnya. Kerajaan yang sudah memiliki mata uang dan kerajaan megah sempat tersohor ke negeri Cina dan disegani pula. Sementara yayasan Monisa yang kini dibentuk terlihat belum mampu berbuat banyak untuk membangkitkan roh sejarah di bumi Nurul A’la itu.

    Serambi yang mencoba menelusuri lokasi itu beberapa waktu lalu, menemukan situs kebanggaan tersebut tak terurus dan tidak diberdayakan secara optimal. Kawasan Bandar Khalifah bekas kerajaan yang dipimpin Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah di kawasan Paya Meuligoe nyaris tak berbekas.

    Kuburan para sulthan di Desa Bandroeng juga tanpa adanya pemugaran yang berarti. Selain itu, sejumlah situs lain seperti kulam Banta Ahmad yang konon mengeluarkan piring kerajaan dan kuburan Prabu Tapa di Desa Kabu, juga tak mendapat perhatian. Padahal di sana juga pernah tercatat sejarah kegagahan seorang putri yang bernama Nurul A’la sebagai laksamana hebat kala itu. Makamnya kini terdapat di Krueng Tuan, Ranto Peureulak.

    Kini hanya tinggal pamplet berukuran kecil yang sudah lapuk terpajang di simpang jalan menuju Paya Meuligoe yang menandakan pernah ada kerajaan Islam di sana. Gagasan pembentukan Monisa juga tidak pernah terwujud sampai hari ini. Satu-satunya cara untuk menguatkan sejarah Peureulak adalah kitab catatan dari buku Abu Ishak Al-Makarani dalam Risalah Idharul-Haq Fil Mamlakatil Peureulak, yang menggambarkan Peureulak sebagai bandar perdagangan yang sangat ramai dikunjungi tahun 173 Hijriah atau tahun 800 Masehi. Karena itu pula Peureulak disebut sebagai salah satu kota peradaban tertua di Aceh

    Tgk Syamsuddin (60) seorang tokoh Peureulak mengakui banyak situs kurang terberdayakan dan banyak anak-anak saat ini yang kurang memahami tentang kerajaan Peureulak itu sendiri. “Mungkin karena tidak ada yang menggerakkan lagi, sehingga pada setiap kesempatan malah tidak disampaikan dan pudar dengan sendirinya. Padahal situs kerajaan Peureulak sudah selayaknya terus dikembangkan agar tidak tergerus zaman,” katanya.

    Dikatakannya, dalam Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara tahun 1980, di Rantau Kualasimpang disipulkan bahwa Aceh Timur disebut sebagai kerajaan Islam pertama (tertua) di Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Hal itu didasarkan pada satu dokumen tertua bernama kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak, karangan Abu Ishak Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy.

    Berdasarkan catatan, Majelis Ulama Kabupaten Aceh Timur ketika itu mengemukakan bahwa jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, orang-orang Parsi telah mengenal nama negeri Peureulak dengan sebutan Taji Alam. Kemudian sekitar tahun 670 M seorang bangsawan Parsi yang selama pengembaraannya telah kawin dengan seorang puteri Siam datang ke Taji Alam dengan maksud berdagang.

    Bangsawan inilah yang menurunkan raja-raja Kerajaan Peureulak. Sebelum agama Islam menjadi kekuatan politik di sana mereka dikenal dengan gelar Meurah. Dengan demikian, bangsawan yang tidak disebutkan namanya itu dapat dianggap sebagai pembangun/peletak dasar pertama Kerajaan Peureulak. Sedang salah seorang anaknya yang “sudah bernama”, yaitu: Meurah Syahir Nuwi disebutkan secara resmi menjadi raja pertama kerajaan Peureulak

    ------------------------------------------------------

    Kerajaan Peureulak Riwayatmu Kini (bagian 2, habis)

    Makam Sulthan Alaidin

    Tgk Abdullah (45) juru kunci makam Sulthan Alaidin Said Maulana Abdul Aziz Syah berdiri di dekat makam pendiri kerajaan Islam pertama Asia Tenggara, Bandar Khalifah Peureulak. Foto direkam Minggu (30/8).SERAMBI/ ISKANDAR USMAN

    Ringkasan sebelumnya:
    Sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, orang-orang Parsi telah mengenal nama negeri Peureulak dengan sebutan Taji Alam. Kemudian sekitar tahun 670 M seorang bangsawan Parsi yang selama pengembaraannya telah kawin dengan seorang puteri Siam datang ke Taji Alam dengan maksud berdagang. Bangsawan inilah yang menurunkan raja-raja Kerajaan Peureulak.

    DISEBUTKAN bahwa pada tahun 173 H. (800 M) sebuah kapal yang membawa 100 orang angkatan dakwah yang terdiri dari orang-orang Arab Kuraisy, Palestina, Persi dan India di bawah pimpinan Nakhoda Khalifah berlabuh di bandar Peureulak. Kendati mereka datang sebagai pedagang, namun mereka masing-masing mempunyai keahlian khusus, terutama dalam bidang pertanian, kesehatan, pemerintahan, strategi dan taktik peperangan dan masih banyak lagi.

    Keahlian yang dimiliki itu kemudian secara berangsur-angsur mulai diterapkan kepada penduduk asli daerah Peureulak. Rupa-rupanya kegiatan mereka di daerah yang baru ditempati itu mendapat simpati rakyat, sehingga dalam waktu yang relatif singkat para angkatan dakwah dengan tidak banyak menghadapi rintangan berhasil mengajak penduduk asli untuk menganut agama Islam.

    Kemudian mereka juga mengawini putri-putri dari Peureulak; bahkan salah seorang pemuda Arab Kuraisy dari rombongan nakhoda Khalifah itu, yang bernama: Saiyid Ali berhasil kawin dengan putri istana Peureulak, yaitu dengan adik kandung Meurah Syahir Nuwi. Dari perkawinan ini lahir Saiyid Abdul Aziz yang kemudian dikawinkan pula dengan anak sulung Meurah Syahir Nuwi yang bernama Putri Makhdum Khudaiwi. Perkawinan ini merupakan landasan bagi terwujudnya kerajaan Islam Peureulak.

    Sebagaimana disebutkan oleh Idharul Haq, bahwa pada hari Selasa, tanggal 1 Muharram 225 H (840 M) Saiyid Abdul Aziz resmi dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Islam Peureulak pertama dengan gelar Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Beriringan dengan pengangkatan Sultan pertama itu, ibu kota kerajaan Bandar Peureulak dipindahkan agak ke pedalaman dan namanya diganti dengan Bandar Khalifah sebagai kenang-kenangan kepada Nakhoda Khalifah yang telah berjasa membawa angkatan dakwah ke Peureulak (letaknya kira-kira 6 Km dari kota Peureulak sekarang dan kota tersebut sampai kini masih ada).

    Sultan Abdul Aziz memerintah sampai tahun 249 H (864 M). Setelah pemerintahannya, menurut Idharul Haq, ada 17 orang lagi sultan yang memerintah di Peureulak. Dengan demikian selama berdirinya kerajaan Islam Peureulak terdapat 18 orang sultan dan salah satunya Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225-249 H = 840-864 M).

    Tidak hanya itu, Marco Polo saat pelayarannya permulaan tahun 1292 M menyebutkan, bahwa ketika ia tiba di bagian Utara Pulau Sumatera, ia telah singgah di Ferlec dan menjumpai penduduk asli di kerajaan kecil itu telah memeluk agama Islam. Di sana telah diperlakukan hukum Islam bagi warganya. Para ahli sependapat, bahwa yang dimaksud dengan Ferlec itu tidak lain adalah Peureulak yang sekarang termasuk wilayah Kabupaten Aceh Timur. Kini, sisa-sisa peninggalan Kerajaan Peureulak nyaris terlupakan. Dibutuhkan kerja keras semua pihak untuk kembali membangkitkan ingatan masyarakat bahwa di Peureulak pernah berdiri sebuah kerajaan Islam yang disegani.

    Wanita - Wanita Aceh adalah wanita-wanita yang luar biasa di zaman Kerajaan Aceh, baik dari zaman Kerajaan Jeumpa Aceh hingga Kerajaan Aceh Darussalam sampai Zaman Aceh jadi Provinsi, siapa yang tidak mengenal Putro Manyang Seulodong,Puteri Makhdum Tansyuri,Putri Betung,Nahrishah,Ratu Tajul Alam Safiatuddin,Laksamana Malahayati, Tjut Nyak Dhien, Cut Nur Asikin dan lain-lainnya.

    Kerajaan Perlak Islam juga melahirkan beberapa perempuan pilihan yang berperan dalam kehidupan bangsa dan negaranya pada masa itu, di antaranya adalah Puteri Nurul A’la yang dilantik menjadi Mangkubumi dan Puteri Nurul Qadimah yang memegang peranan dalam bidang ekonomi pada masa itu dengan jabatannya sebagai ketua bendahara kerajaan (baitul mal).

    Puteri Nurul A’la adalah pu¬teri Sultan Perlak kesebelas, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat (1078-1108 M). Pu¬teri Nurul A’la meneruskan perjuangan ayahnya dengan menduduki jabatan sebagai Mangkubumi atau perdana menteri pada masa Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat (1108-1134 M).

    Seperti sayakutip dari Tabloid Modus Aceh, Selain sebagai perdana menteri, Puteri Nurul A’la juga menjabat sebagai panglima perang yang gagah berani pada masanya.

    Untuk mengenang Riwayat Puteri Nurut A’la, masyarakat Aceh mengabadikannya dalam bentuk cerita rakyat yang dikenal dengan Hikayat Puteri Nurul A’la.

    Hikayat tersebut menceritakan bahwa dulu ada seorang raja yang berkuasa di Perlak yang wilayahnya terletak di Blang Perlak antara muara Krueng Tuan dan Krueng Seumanah.

    Setelah lama menikah, raja itu belum mempunyai keturunan lalu ia bernazar kalau ia diberi putera, ia akan memandikan puteranya di laut dekat Kuala Perlak.

    Tidak berama ama kemudian, raja tersebut dikarunial seorang putera yang diberi nama Ahmad Banta dan seorang puteri yang diberi nama Puteri Nurul A’la. Setelah puteranya besar, raja tersebut menunaikan nazarnya untuk memandikan puteranya di laut. Sesampai di Kuala Perlak ia berhenti dan membuat rakit lalu memandikan puteranya itu di atas rakit dengan upacara khusus.

    Setelah acara memandikan selesai, tiba-tiba datang ikan besar menerkam dan mendorong putera raja tersebut ke tengah-tengah laut. Raja dan orang-orang yang menyaksikan acara tersebut terkesima hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka pulang dengan membawa duka.

    Sesampai di istana, Raja Perlak bertanya kepada paranormal apakah anaknya masih hidup dan kemana perginya. Paranormal itu menjawab bahwa anaknya masih hidup dan diselamatkan oleh Nahkoda kapal dan dibawa ke negeri Jayakarta. Raja Perlak juga diberi saran tidak perlu khawatir karena anaknya selamat dan akan kembali lagi karena puterinya nanti setelah dewasa akan membawa kakaknya kembali ke Perlak dengan perahu yang terbuat dan pohon perlak yang ditebang di Sungai Peunaron. Mendengar jawaban paranormal tersebut, Raja dan Permaisuri Perlak sedikit lega namun tetap menyimpan kesedihan ditinggal puteranya.

    Untuk mengingatkan agar Puteri Nurul A’la kelak mencari kakaknya, dibuatlah syair secara khusus untuknya.

    Allahi hai do doda idang
    Rangkang di blang tameh Bangka
    Beurijang rayeuk putroe seudang
    Tajak teubang peurlak raya

    Allah hai do doda idang
    Cicem subang jiphe meugisa
    Ngon teer rayeuk bungoeng keumang
    Kayee disimang peuget keumang
    Jak kutimang bungong meurak
    Kayee sibak di leuen Istana
    Beurijang rayeuk puteh meuprak
    Beukeut tamat beuliong raya

    Jak kutimang bungong langsat
    Bee ji mangat bungong langa
    Beuridjang rayeuk puteh lumat
    Bak jeuet tamat keumudue bechtra

    Allah hai do doda idi
    Anoe pasi riyeuk tampa
    Beurijang rayeuk cut putehdi
    Gantoe ai adoen ta mita

    Allah hai do doda idang
    Bungong mancang rhot meukeuba
    Bak rang rajeuk bungong keumang
    Jak tueng abang di Jayakarta

    Jak kutimang bungong sukon
    Bak sitahon boh hantomna
    Beurijang rayeuk puteh sabon
    Beu-ek tapeutron bechtra raya

    Bukon sayang lon eu simplah
    Lam geu keubah soe ngui hana
    Bukon sayang lon eu nang mah
    Dalam sosah ingat keubantu

    Bukan sayang lon eu peutoe
    Peunoh asoe meuih permata
    Bukan sajang lon eu putroe
    Da wok geumue ro ie mata

    Artinya:

    Mari kuayu kubuaikan
    Dangau di sawah tiang Bangka
    Lekaslah besar putrid sedang
    Pergilah tebang peureulak raya

    Mari kubuai dan kudendang
    Unggas Subang terbang berkisar
    Jikalah besar bunga kembang
    Kayu disimpang buatkan bahtera

    Kembang merak mari kutimang
    Kayu sebatang muka istana
    Lekaslah besar putih Cemerlang
    Sanggup memegang beliung raja

    Mari kutimang bunga langsat
    Bau yang sedap bunga kenanga
    Lekaslah besar putih lumat Cakap memegang kemudi bahtera

    Allah hai putrid mari kubuai
    Pasir dipantai riak menimpa
    Lekas remaja cut putihdi
    Pengganti ayah cari kakanda

    Allah hai putrid mari kutimbang
    Bunga mancang gugur merata
    Lekaslah besar wahai kembang
    Jemput abang di Jayakarta

    Mari kupangku bunga sukun
    Phon sitaloh buah tak ada
    Lekaslah besar putih sabun
    Sangguo menurun bahtera raya

    Saja terharu memandang simplah
    Tersimpan indah yang pakai tak ada
    Alangkah sayang bunda dan ayah
    Dalam susah mengenang banta

    Sedih hatiku melihat peti
    Penuh berisi intan permata
    Sayang sekali permaisuri
    Lalai beruarai air mata

    Inang istana Perlak selalu mendendangkan lagu tersebut untuk Puteri Nurul A’la kecil dengan harapan ketika dewasa ia mengingat isi pesan tersebut.

    Dan setelah dewasa, Puteri Nurul A’la mengingat semua pesan yang ada dalam syair tersebut. Ia meminta dibuatkan perahu dan pohon perlak yang tumbuh di Sungai Peunaron.

    Karena sudah sudah lama ditunggu-tunggu, permintaan Pu¬teri Nurul A’la langsung dika¬bulkan.

    Setelah jadi, saatnya perahu ditarik namun setelah semua usaha dikerahkan perahu tidak beranjak dari tempatnya. Puteri Nurul A’la sedih dan pada malam harinya Ia bermimpi untuk menarik perahu itu ke laut keponakannya yang bernama Puteri Nurul Kadimah harus dibungkus kain kafan untuk menjadi bantalan perahu dan perahu itu ditarik dengan sehelai rambut keponakannya itu.

    Setelah bermimpi Puteri Nurul A’la semakin sedih namun Puteri Nurul Kadimah rela menjadi bantalan mencari kakaknya yang hilang.

    Setelah semuanya sepakat. Puteri Nurul Kadimah dibungkus dengan kain kafan dan ditempatkan di bawah perahu untuk menjadi bantalan sedangkan Puteri Nurul A’la menarik perahu itu dengan sehelai rambut milik keponakannya itu sementara orang-orang mendorong dari belakang. Perahu itu bergerak dan akhirnya sampai ke laut.

    Puteri Nurul Ala diiringi pengawalnya lalu melaju menuju Jayakarta. Sesampainya di sana ia langsung diserang dan kalah tetapi sempat melontarkan cincin kakaknya itu hingga jatuh di depan Raja Jayakarta.

    Setelah melihat cincin itu, Raja Jayakarta tahu kalau puteri cantik itu adalah adiknya. Ia lalu pergi sendiri mengejar adiknya dan setelah bertemu keduanya tinggal bersama. Puteri Nurul A’la dilamar oleh Berbu Tapa dan menerima lamaran tersebut dengan syarat Ia harus pulang dulu ke Perlak.

    puteri Nurul Ala pulang diantar prabu Tapa dan ketika tiba di Perlak Prabu Tapa disuruh tinggal di kampong Tjek Brek sementara ia tinggal di Paya Meuligoe. Prabu Tapa menagih janji Puteri Nuru A’la. Puteri Nurul A’la minta tenggang tiga bulan untuk menyiapkan segalanya. Namun selama tiga bulan tersebut ia malah mempersiapkan ilmu untuk melawan Prabu Tapa.

    Sementara itu, kakaknya setelah tiba di Perlak tidak lama kemudian mangkat. Mengetahui hal itu, Puteri Nurul A’la takut dan lari ke Simpang Peunaron di Blang Perak. Prabu Tapa marah dan mengejar Puteri Nurul A’la yang lari ke Krueng Peunaron. Lubok Pancaningan dan meninggal di sana.

    Tidak menemukan Puteri Nurul A’la. Prabu Tapa bertambah marah dan membunuh setiap orang di Kampung Beuringan karena itu orang-orang menyebut kampung itu dengan Kampung Teungku di Bungeh.

    Telah menjadi catatan para ahli sejarah dan ilmuan terutama Abu Ishak Al-Makarany Pasy bahwa kerajaan Islam-I-Asia Tenggara adalah telah didirikan di Peureulak dengan Ibukotanya, Bandar Khalifah.

    Baginda Sulthan adalah turunan dari Dinasti Sasanit Jazirah Arab Persia pada saat itu diperintah oleh Raja Kisra. Saat itu, dimana seorang Putra dari Dinasti Sasanit Pangeran Salman meninggalkan Tanah Airnya menuju timur jauh dengan dan Asia Tenggara untuk berniaga dan berdakwah dengan kapal dagangnya.

    Saat pertama adalah tiba dan berlabuh di Bandar Jeumpa (Aceh Jeumpa) sekarang. Setelah kapal kembali pulang, Pangeran tidak ikut pulang dan terakhir terpikat dan kawin dengan Putri Jeumpa bernama Putri Mayang Seuleudang, Puteri dari Meurah jeumpa.

    Tiada berapa lama, atas restu Meurah Jeumpa, Pangeran Salman dan Puteri Mayang Seuleudang berangkat ke Negeri Peureulak, kedatangannya adalah diterima oleh Meurah Peureulak. Setelah baginda Meurah Peureulak berpulang ke rahmatullah, Baginda tidak mempunyai anak laki-laki.

    Atas mufakat Pembesar-pembesar Negeri Peureulak serta rakyat, diangkatlah Pangeran Salman menjadi Meurah Peureulak yang baru. Dalam masa Baginda menjadi Meurah Peureulak, negeri menjadi makmur-rakyat sejahtera, ekonomi maju pesat karena hubungan perdagangan dan kapal-kapal asing ramai berdagang ke negeri Peureulak, terutama membeli hasil bumi dan rempah-rempah.

    Pangeran Salman dan Puteri Mayang Seuleudang mempunyai 4 orang putra dan 1 putri, masing-masing adalah :

    1. Syahir Nuwi, kemudian menggantikan ayahnya jadi Meurah Peureulak.
    2. Syahir Tanwi (Puri), kemudian pulang ke negeri Ibunya Jeumpa dan diangkat menjadi Meurah Jeumpa, menggantikan kakeknya yang telah meninggal dunia.
    3. Syahir Puli, merantau ke Barat (Pidie, sekarang) kemudian di negeri itu diangkat menjadi Meurah Negeri Sama Indra (Pidie)
    4. Sayhir Duli, setelah dewasa merantau ke daerah negeri barat paling ujung (Banda Aceh, sekarang), karena kecakapannya diangkat menjadi Meurah Negeri Indra Pura (Aceh Besar, sekarang).
    5. Putri Maghdum Tansyuri

    Berdasarkan hal tersebut diatas, secara geografis dan strategis semua negeri di sepanjang Selat Malaka adalah dalam Pemerintahan Para Meurah keturunan. Dinasti Sasanit pihak ayah dan turunan Meurah Jeumpa dari pihak ibu. Di Acheh, anak cucu dari keturunan ke Empat Meurah disebut “Kaom Imum Peut” (Kaum Imam Empat).

    Epilog dari turunan dinasti Sasanit adalah : Pada suatu masa Pemerintahan Daulah Ummayyah, dibawah pimpinan Khalifah Makmun Ibnu Harun Al-Rasyid, telah menindas Partai Syiah yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib.

    Salah seorang turunan Ali bin Abi Thalib, memberontak terhadap Khalifah Makmun yang berkedudukan di Baghdad dan memproklamirkan dirinya menjadi Khalifah di Mekkah.

    Dengan murka, Sulthan Makmun mengirim pasukan perang untuk memukul mundur Muhammad Jaffar Shiddiq di Mekkah. Para proklamator tersebut kalah dan tidak dibunuh akan tetapi dimaafkan.

    Seterusnya, Khalifah Makmun memerintahkan kaum Syiah meluaskan dakwah ke negeri Asia Tenggara-Hindie dan Timur Jauh. Atas dasar itulah, sebuah Armada Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang dibawah pimpinan Nahkoda Khalifah (turunan Qatar) memasuki Bandar Peureulak.

    Saat itu, yang menjadi Meurah Peureulak adalah Syahir Nuwi. Salah seorang dari anggota Angkatan Dakwah Ali bin Muhammad bin Jaffar Shiddiq dinikahkan oleh Meurah Peureulak dengan adik kandungnya Putri Maghdum Tansyuri.

    Dari perkawinan inilah lahir seorang Putra, oleh kedua orang tuanya diberi nama Sayed Abdul Aziz. Pada tanggal 1 Muharam 225 H (840 M) dilantik menjadi Raja Kerajaan Islam I Acheh Peureulak dengan gelar Sultan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Maghdum Shah dan kawin dengan Putri Maghdum Khadewi.

    Dinasti Kerajaan Islam I Acheh Peureulak adalah mempunyai 19 orang Sulthan mulai dari tahun 840 M-1292 M antara lain adalah sebagai berikut :

    1. Dinasti Sayed Maulana Abdul Aziz Maghdum Shah 840 M-864 M pendiri Kerajaan Islam I Aceh Peureulak.

    1.1   Sulthan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Maghdum Shah 840 m-864 M pendiri Kerajaan Islam I Acheh Peureulak.

    1.2   Sulthan Alaidin Sayed Maulana Abdul Rahim Shah 864-888 M

    1.3   Sulthan Alaidin Sayed Maulana Abbas Shah 888 M-913 M

    1.4   Sulthan Alaidin Sayed Maulana Ali Mughayat Shah 915 M-918 M

    1. Dinasti Maghdum Johan Berdaulat (Shiah) Peureulak pesisir 928-986 M

    2.1   Sulthan Maghdum Alaidin Malik Abdul Kadir Shah Johan berdaulat 928 M-932 M

    2.2   Sulthan Maghdum Alaidin Malik Muhammad Amin Shah Johan berdaulat 932 M-965 M. Baginda dikenal dengan nama TEUNGKU COT KALA, adalah Pendiri Perguruan Tinggi Zawiyah Cot Kala di (Bayeun) saat ini dengan pendidikan lengkap-agama-filsafat-dan militer

    2.3   Sulthan Maghdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat 956-976 M

    2.4   Sulthan Alaiddin Sayed Maulana Shah 976 M-986 M

    1. Dinasti Maghdum Alaidin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat 986-1292 M.

    3.1         Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat 986 M-1012 M. Pada tahun 986 M-1006 M, selama 20 tahun Kerajaan Islam Acheh Peureulak berperang melawan aggressor Sri Wijaya, dan pada akhirnya tentara Sri Wijaya menarik diri dari Peureulak karena menghadapi serangan Dharmawangsa dari Pulau Jawa.

    3.2         Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat 1012 M-1059 M

    3.3         Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Manshur Shah Johan Berdaulat 1059 M-1078 M

    3.4         Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Abdullah Shah Johan Berdaulat 1078 M-1109 M

    3.5         Sulthan Maghdum Alaiddin Malik  Ahmad Shah Johan Berdaulat 1109 M-1135 M

    3.6         Sulthan Maghdum Alaiddin Malik  Mahmud Shah Johan Berdaulat 1135 M-1160 M

    3.7         Sulthan Maghdum Alaiddin Malik  Usman Shah Johan Berdaulat 1180 M-1173 M

    3.8         Sulthan Maghdum Alaiddin Malik  Muhammad Shah Johan Berdaulat 1173 M- 1200 M

    3.9         Sulthan Maghdum Alaiddin Abdul Jalil Shah Johan Berdaulat 1200 M-1230 M

    3.10      Sulthan Maghdum Alaiddin Malik  Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat 1230 M-1267 M. Baginda tidak mempunyai Putera, tapi mempunyai puteri, yaitu : 

    3.10.1.    Puteri Ratna Keumala, dikawinkan dengan Raja Malaka, Sulthan Muhammad Shah atau bergelar Para Meswara

    3.10.2.    Puteri Ganggang, dikawinkan dengan Sulthan Malik Al-Salih Meurah Siloo-Sultan Negeri Samudera Pasai yang memerintah Pasai 1261 M-1289 M, mangkat pada tahun 1291 M.

    Dari sinilah mulai terbina poros Kerajaan-kerajaan Islam –Kerajaan Islam Aceh Peureulak – Pasei dan Malaka di Tanah Melayu.

    3.11      Sulthan Maghdum Alaiddin Malik  Abdul Aziz Shah Johan Berdaulat 1263 M-1292 M. Baginda adalah penghabisan Sulthan Peureulak, karena disatukan Kerajaan Islam Pasei, dibawah pimpinan Sulthan Muhammad Malik Az-Zahir (Putra Meurah Siloo dengan Putri Ganggang atau cucunda Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Berdaulat dari Kerajaan Islam Acheh Peureulak).

    Bila kita kenang kembali, umur kota Peureulak saat ini adalah 1167 tahun. Setelah Kerajaan Islam Peureulak disatukan kedalam Kerajaan Islam Pasei, di Peureulak sendiri di perintah oleh Hulubalang (Ampon Chik) dan yang terakhir adalah Ampon Tjhik Tuha dan generasi seterusnya adalah Teuku Tjhik Muhammad Thayeb ananda Ampon Tjhik Tuha atau nenekanda dari Bapak Teuku Hadi Thayeb mantan Gubernur Acheh.

    Diseluruh persada bumi Acheh adalah terdapat kerajaan-kerajaan Negeri itu sendiri yang diperintah oleh masing-masing Raja, yang nantinya menjadi suatu mata rantai berdirinya Negara Kerajaan Islam, Acheh Darussalam, antara lain adalah :

    1. Kerajaan Islam I Acheh Peureulak 840 M-1292 M
    2. Kerajaan Islam Samudera Pasai, Sulthan yang pertama adalah Maharaja Muhammad Shah 1042 M-1078 M (Kerajaan Salasari)
    3. Kerajaan Islam Beunua Teuming, dengan Raja I adalah Meurah Gajah 1184 M-1203 M dan yang terakhir adalah Pendekar Sri Meungkuta dari Alas 1528 M-1558 M.

    Wilayah Kerajaan Islam Teuming adalah meliputi – Teumig Negeri Alas - Negeri Isak (Gayo).

    1. Kerajaan Pidie (Shahir Puli) dan Sama Indra dengan sulthannya adalah Sulthan Maarif Shah Baginda mangkat 18 Spetember 1951 M-Nisan-Keulibeut Pidie.
    2. Kerajaan Islam Acheh Indera Purba (Lamuri) Darussalam – Sulthan I adalah Sulthan Alaidin Shah 1205 M- 1273 M
    3. Kerajaan Islam Meureuhom Daya – 1205 M dengan Sulthan I adalah Alaiddin Johan Shah di Daya Lam No (Aceh Barat).

    Jelaslah kepada kita semua bahwa, penyatuan Kerajaan-kerajaan Islam Aceh di bumi persada Aceh adalah pertama telah dilakukan dari zaman dahulu kala dengan sistem masing-masing kerajaan adalah mengatur negeri dan pemerintahannya masing-masing, baik Sipil dan Militer (Pertahanan) dan mengangkat perangkat pemerintahannya.

    Hal tersebut diatas adalah sama dengan praktek Tata Negara yang dilakukan di Benua Amerika, Inggris-Eropa dan Malaysia saat ini. Amerika dengan sistim Negara Bahagiannya, Inggris dengan sistem Negara persemakmurannya (Commonwealth) dan Malaysia dengan Negara Bahagiannya dimana Kepala Negeri adalah Sulthan dan Yang Dipertuan Agung sebagai Malikul Adilnya.

    Ini kesemuanya, telah dipraktekkan dalam atur Tata Negara Kerajaan Islam Aceh dan ini berarti juga bahwa peradaban Bangsa Aceh ada setelah Peradaban bangsa Eropa.

    Demokrasi adalah telah tumbuh subur dipraktekkan dalam kerajaan Islam Acheh di seluruh Bumi Acheh.

    Kini jelaslah kepada kita bahwa - Kerajaan Islam –I – Asia Tenggara (Peureulak) dimulai pada 840 M sampai dengan Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Shah Johan berdaulat adalah terakhir tahun 1292 M. Artinya, Dinasti Islamiyah di Peureulak telah Berjaya selama 452 tahun lamanya.

    Selanjutnya, seluruh Kerajaan disatukan menjadi Kerajaan Islam Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Sultan Alaidin Mahmud II Johan Shah – 1205 – 1234 M – Baginda adalah Sulthan – Pertama – Kerajaan Aceh Darussalam – masih keturunan Sulthan – Kerajaan Islam – I – Peureulak – Dinasti – Sayed Maulana.

    Kerajaan Islam Aceh Darussalam diawali pada tahun 1205 M sampai dengan Sulthan Alaiddin Muhammad Daod Shah II – 1873 – 1907 M atau s/d masuknya Jepang 1942 – kemudian Aceh melawan Belanda sejak 1873 s/d 1941 masuk jepang = 69 tahun Aceh berperang dengan Belanda, maka usia Dinasti Islamiyah di Aceh adalah berkuasa dari I Muharam 840 M s/d 1941 =1101 tahun lamanya.

     

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kerajaan Peureulak Merupakan Kerajaan Islam Pertama Di Aceh Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top