Sebelum islam masuk ke aceh, di
pereulak telah berdiri sebuah kerajaan, yaitu ketutrunan dari raja raja siam
(syahir Nuwi) pada tahun 173 H (800M) dibandar Pereulak berlabuh kapal pedagang
yang membawa saudagar dari teluk kambay(gujarat) dinahkodai oleh nahkoda
khalifah.
selain menjadi saudagar, pedagang tersebut juga berperan sebagai muballigh,
yang berdakwah agama islam. dengan usaha mereka, maka masuk islam lah sebagian
besar penduduk kerajaan pereulak.
dalam jangka waktu kurang dari setengah abat, dipereulak telah terorganisasi
masyarakat islam yang terdiri dari orang-orang keturunan penduduk pribum,
campuran peranakan arab,persia
dan gujarat. karena mereka relah bersatu maka masyarakat islam tersebut
memproklamirkan berdirinya kerajaan islam pereulak pada 1 muharram 225 H (tahun
840M) dan menurut literatur sejarah disinilah perkembangan Islam pertama dibumi
tanah rencong.......
nah pereulak adalah kota dan daerah pertama di asia tenggara yang menjadi pusat
penyebaran islam dimasa itu dan daerah pertama juga diaceh yang
menjadi/menganut ajaran islam serta berdirinya kerajaan islam
bisa dikatakan kalo pereulak adalah pusat ajaran agama Islam dan sebuah
daerah yang maju dengan sebutan BANDAR PEREULAK..
nah rekan rekan gimana menurut kalian semua coba kita bandingkan dengan
sekarang apakah masih ada bekas daerah islam yang kaffah di Aceh?
Kerajaan Peureulak Riwayatmu Kini (bagian 1 dari 2 tulisan)
Mata uang kerajaan
Sebagian mata uang kerajaan Peureulak yang ditemukan kembali oleh warga.
Mata uang itu
menyebutkan nama raja pada tahun memimpin dan khas keislaman.
Kini mata uang itu juga dipajang di stand Aceh Timur di PKA 5 di Banda Aceh. SERAMBI/
ISKANDAR USMAN
SITUS peradaban peninggalan kerajaan Peureulak kini seakan
terlupakan. Setelah meninggalnya Arifin Amin dan Ali Hasjmy, dua tokoh yang
sempat menggagas pembangunan Monument Islam Asia Tenggara (Monisa) di
Peureulak, kini situs peninggalan sejarah yang menandakan kebesaran kawasan
Peureulak itu mulai kurang diperhatikan.
Kawasan kerajaan yang dikenal dengan sebutan Bandar Khalifah (tempatnya para
raja) tidak lagi berbekas sama sekali. Tulisan pada makam-makam para raja terus
memudar. Bahkan, sejumlah makam dengan pahatan tulisan kuno telah longsor ke
sungai. Sisa-sisa kebesaran Kerajaan Peurelak kini nyaris hilang semua.
Padahal, sejarah Peureulak tempo dulu dikenal dengan khazanah budaya Islamnya.
Kerajaan yang sudah memiliki mata uang dan kerajaan megah sempat tersohor ke
negeri Cina dan disegani pula. Sementara yayasan Monisa yang kini dibentuk
terlihat belum mampu berbuat banyak untuk membangkitkan roh sejarah di bumi
Nurul A’la itu.
Serambi yang mencoba menelusuri lokasi itu beberapa waktu lalu,
menemukan situs kebanggaan tersebut tak terurus dan tidak diberdayakan secara
optimal. Kawasan Bandar Khalifah bekas kerajaan yang dipimpin Sultan Alaiddin
Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah di kawasan Paya Meuligoe nyaris tak berbekas.
Kuburan para sulthan di Desa Bandroeng juga tanpa adanya pemugaran yang
berarti. Selain itu, sejumlah situs lain seperti kulam Banta Ahmad yang konon
mengeluarkan piring kerajaan dan kuburan Prabu Tapa di Desa Kabu, juga tak
mendapat perhatian. Padahal di sana
juga pernah tercatat sejarah kegagahan seorang putri yang bernama Nurul A’la
sebagai laksamana hebat kala itu. Makamnya kini terdapat di Krueng Tuan, Ranto
Peureulak.
Kini hanya tinggal pamplet berukuran kecil yang sudah lapuk terpajang di
simpang jalan menuju Paya Meuligoe yang menandakan pernah ada kerajaan Islam di
sana. Gagasan
pembentukan Monisa juga tidak pernah terwujud sampai hari ini. Satu-satunya
cara untuk menguatkan sejarah Peureulak adalah kitab catatan dari buku Abu
Ishak Al-Makarani dalam Risalah Idharul-Haq Fil Mamlakatil Peureulak, yang
menggambarkan Peureulak sebagai bandar perdagangan yang sangat ramai dikunjungi
tahun 173 Hijriah atau tahun 800 Masehi. Karena itu pula Peureulak disebut
sebagai salah satu kota
peradaban tertua di Aceh
Tgk Syamsuddin (60) seorang tokoh Peureulak mengakui banyak situs kurang
terberdayakan dan banyak anak-anak saat ini yang kurang memahami tentang
kerajaan Peureulak itu sendiri. “Mungkin karena tidak ada yang menggerakkan
lagi, sehingga pada setiap kesempatan malah tidak disampaikan dan pudar dengan
sendirinya. Padahal situs kerajaan Peureulak sudah selayaknya terus
dikembangkan agar tidak tergerus zaman,” katanya.
Dikatakannya, dalam Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan
Nusantara tahun 1980, di Rantau Kualasimpang disipulkan bahwa Aceh Timur
disebut sebagai kerajaan Islam pertama (tertua) di Nusantara, bahkan di Asia
Tenggara. Hal itu didasarkan pada satu dokumen tertua bernama kitab Idharul Haq
Fi Mamlakatil Peureulak, karangan Abu Ishak Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy.
Berdasarkan catatan, Majelis Ulama Kabupaten Aceh Timur ketika itu mengemukakan
bahwa jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, orang-orang Parsi telah mengenal
nama negeri Peureulak dengan sebutan Taji Alam. Kemudian sekitar tahun 670 M
seorang bangsawan Parsi yang selama pengembaraannya telah kawin dengan seorang
puteri Siam
datang ke Taji Alam dengan maksud berdagang.
Bangsawan inilah yang menurunkan raja-raja Kerajaan Peureulak. Sebelum agama
Islam menjadi kekuatan politik di sana
mereka dikenal dengan gelar Meurah. Dengan demikian, bangsawan yang tidak
disebutkan namanya itu dapat dianggap sebagai pembangun/peletak dasar pertama
Kerajaan Peureulak. Sedang salah seorang anaknya yang “sudah bernama”, yaitu:
Meurah Syahir Nuwi disebutkan secara resmi menjadi raja pertama kerajaan
Peureulak
------------------------------------------------------
Kerajaan Peureulak Riwayatmu Kini (bagian 2, habis)
Makam Sulthan Alaidin
Tgk Abdullah (45) juru kunci makam Sulthan Alaidin Said Maulana Abdul Aziz Syah berdiri di dekat makam pendiri kerajaan Islam pertama Asia Tenggara, Bandar Khalifah Peureulak. Foto direkam Minggu (30/8).SERAMBI/ ISKANDAR USMAN
Ringkasan sebelumnya:
Sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, orang-orang Parsi telah mengenal nama negeri
Peureulak dengan sebutan Taji Alam. Kemudian sekitar tahun 670 M seorang
bangsawan Parsi yang selama pengembaraannya telah kawin dengan seorang puteri Siam datang ke
Taji Alam dengan maksud berdagang. Bangsawan inilah yang menurunkan raja-raja
Kerajaan Peureulak.
DISEBUTKAN bahwa pada tahun 173 H. (800 M) sebuah kapal yang membawa 100 orang
angkatan dakwah yang terdiri dari orang-orang Arab Kuraisy, Palestina, Persi
dan India di bawah pimpinan Nakhoda Khalifah berlabuh di bandar Peureulak.
Kendati mereka datang sebagai pedagang, namun mereka masing-masing mempunyai
keahlian khusus, terutama dalam bidang pertanian, kesehatan, pemerintahan,
strategi dan taktik peperangan dan masih banyak lagi.
Keahlian yang dimiliki itu kemudian secara berangsur-angsur mulai diterapkan
kepada penduduk asli daerah Peureulak. Rupa-rupanya kegiatan mereka di daerah
yang baru ditempati itu mendapat simpati rakyat, sehingga dalam waktu yang
relatif singkat para angkatan dakwah dengan tidak banyak menghadapi rintangan
berhasil mengajak penduduk asli untuk menganut agama Islam.
Kemudian mereka juga mengawini putri-putri dari Peureulak; bahkan salah seorang
pemuda Arab Kuraisy dari rombongan nakhoda Khalifah itu, yang bernama: Saiyid
Ali berhasil kawin dengan putri istana Peureulak, yaitu dengan adik kandung
Meurah Syahir Nuwi. Dari perkawinan ini lahir Saiyid Abdul Aziz yang kemudian
dikawinkan pula dengan anak sulung Meurah Syahir Nuwi yang bernama Putri
Makhdum Khudaiwi. Perkawinan ini merupakan landasan bagi terwujudnya kerajaan
Islam Peureulak.
Sebagaimana disebutkan oleh Idharul Haq, bahwa pada hari Selasa, tanggal 1
Muharram 225 H (840 M) Saiyid Abdul Aziz resmi dinobatkan menjadi Sultan
Kerajaan Islam Peureulak pertama dengan gelar Sultan Alaiddin Saiyid Maulana
Abdul Aziz Syah. Beriringan dengan pengangkatan Sultan pertama itu, ibu kota
kerajaan Bandar Peureulak dipindahkan agak ke pedalaman dan namanya diganti
dengan Bandar Khalifah sebagai kenang-kenangan kepada Nakhoda Khalifah yang
telah berjasa membawa angkatan dakwah ke Peureulak (letaknya kira-kira 6 Km
dari kota Peureulak sekarang dan kota tersebut sampai kini masih ada).
Sultan Abdul Aziz memerintah sampai tahun 249 H (864 M). Setelah
pemerintahannya, menurut Idharul Haq, ada 17 orang lagi sultan yang memerintah
di Peureulak. Dengan demikian selama berdirinya kerajaan Islam Peureulak
terdapat 18 orang sultan dan salah satunya Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul
Aziz Syah (225-249 H = 840-864 M).
Tidak hanya itu, Marco Polo saat pelayarannya permulaan tahun 1292 M
menyebutkan, bahwa ketika ia tiba di bagian Utara Pulau Sumatera, ia telah
singgah di Ferlec dan menjumpai penduduk asli di kerajaan kecil itu telah
memeluk agama Islam. Di sana
telah diperlakukan hukum Islam bagi warganya. Para
ahli sependapat, bahwa yang dimaksud dengan Ferlec itu tidak lain adalah
Peureulak yang sekarang termasuk wilayah Kabupaten Aceh Timur. Kini, sisa-sisa
peninggalan Kerajaan Peureulak nyaris terlupakan. Dibutuhkan kerja keras semua
pihak untuk kembali membangkitkan ingatan masyarakat bahwa di Peureulak pernah
berdiri sebuah kerajaan Islam yang disegani.
Kerajaan Perlak Islam juga melahirkan beberapa perempuan pilihan yang berperan
dalam kehidupan bangsa dan negaranya pada masa itu, di antaranya adalah Puteri
Nurul A’la yang dilantik menjadi Mangkubumi dan Puteri Nurul Qadimah yang
memegang peranan dalam bidang ekonomi pada masa itu dengan jabatannya sebagai
ketua bendahara kerajaan (baitul mal).
Puteri Nurul A’la adalah pu¬teri Sultan Perlak kesebelas, Sultan Makhdum
Alaiddin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat (1078-1108 M). Pu¬teri Nurul A’la
meneruskan perjuangan ayahnya dengan menduduki jabatan sebagai Mangkubumi atau
perdana menteri pada masa Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Syah Johan
Berdaulat (1108-1134 M).
Seperti sayakutip dari Tabloid
Modus Aceh, Selain sebagai perdana menteri, Puteri Nurul A’la juga menjabat
sebagai panglima perang yang gagah berani pada masanya.
Untuk mengenang Riwayat Puteri Nurut A’la, masyarakat Aceh
mengabadikannya dalam bentuk cerita rakyat yang dikenal dengan Hikayat Puteri
Nurul A’la.
Hikayat tersebut menceritakan bahwa dulu ada seorang raja
yang berkuasa di Perlak yang wilayahnya terletak di Blang Perlak antara muara
Krueng Tuan dan Krueng Seumanah.
Setelah lama menikah, raja itu belum mempunyai keturunan
lalu ia bernazar kalau ia diberi putera, ia akan memandikan puteranya di laut
dekat Kuala Perlak.
Tidak berama ama kemudian, raja tersebut dikarunial
seorang putera yang diberi nama Ahmad Banta dan seorang puteri yang diberi nama
Puteri Nurul A’la. Setelah puteranya besar, raja tersebut menunaikan nazarnya
untuk memandikan puteranya di laut. Sesampai di Kuala Perlak ia berhenti dan
membuat rakit lalu memandikan puteranya itu di atas rakit dengan upacara
khusus.
Setelah acara memandikan selesai, tiba-tiba datang ikan
besar menerkam dan mendorong putera raja tersebut ke tengah-tengah laut. Raja
dan orang-orang yang menyaksikan acara tersebut terkesima hingga tidak bisa
berbuat apa-apa. Mereka pulang dengan membawa duka.
Sesampai di istana, Raja Perlak bertanya kepada paranormal
apakah anaknya masih hidup dan kemana perginya. Paranormal itu menjawab bahwa
anaknya masih hidup dan diselamatkan oleh Nahkoda kapal dan dibawa ke negeri
Jayakarta. Raja Perlak juga diberi saran tidak perlu khawatir karena anaknya
selamat dan akan kembali lagi karena puterinya nanti setelah dewasa akan
membawa kakaknya kembali ke Perlak dengan perahu yang terbuat dan pohon perlak
yang ditebang di Sungai Peunaron. Mendengar jawaban paranormal tersebut, Raja
dan Permaisuri Perlak sedikit lega namun tetap menyimpan kesedihan ditinggal
puteranya.
Untuk mengingatkan agar Puteri Nurul A’la kelak mencari
kakaknya, dibuatlah syair secara khusus untuknya.
Allahi hai do doda idang
Rangkang di blang tameh Bangka
Beurijang rayeuk putroe seudang
Tajak teubang peurlak raya
Allah hai do doda idang
Cicem subang jiphe meugisa
Ngon teer rayeuk bungoeng keumang
Kayee disimang peuget keumang
Jak kutimang bungong meurak
Kayee sibak di leuen Istana
Beurijang rayeuk puteh meuprak
Beukeut tamat beuliong raya
Jak kutimang bungong langsat
Bee ji mangat bungong langa
Beuridjang rayeuk puteh lumat
Bak jeuet tamat keumudue bechtra
Allah hai do doda idi
Anoe pasi riyeuk tampa
Beurijang rayeuk cut putehdi
Gantoe ai adoen ta mita
Allah hai do doda idang
Bungong mancang rhot meukeuba
Bak rang rajeuk bungong keumang
Jak tueng abang di Jayakarta
Jak kutimang bungong sukon
Bak sitahon boh hantomna
Beurijang rayeuk puteh sabon
Beu-ek tapeutron bechtra raya
Bukon sayang lon eu simplah
Lam geu keubah soe ngui hana
Bukon sayang lon eu nang mah
Dalam sosah ingat keubantu
Bukan sayang lon eu peutoe
Peunoh asoe meuih permata
Bukan sajang lon eu putroe
Da wok geumue ro ie mata
Artinya:
Mari kuayu kubuaikan
Dangau di sawah tiang Bangka
Lekaslah besar putrid sedang
Pergilah tebang peureulak raya
Mari kubuai dan kudendang
Unggas Subang terbang berkisar
Jikalah besar bunga kembang
Kayu disimpang buatkan bahtera
Kembang merak mari kutimang
Kayu sebatang muka istana
Lekaslah besar putih Cemerlang
Sanggup memegang beliung raja
Mari kutimang bunga langsat
Bau yang sedap bunga kenanga
Lekaslah besar putih lumat Cakap memegang kemudi bahtera
Allah hai putrid mari kubuai
Pasir dipantai riak menimpa
Lekas remaja cut putihdi
Pengganti ayah cari kakanda
Allah hai putrid mari kutimbang
Bunga mancang gugur merata
Lekaslah besar wahai kembang
Jemput abang di Jayakarta
Mari kupangku bunga sukun
Phon sitaloh buah tak ada
Lekaslah besar putih sabun
Sangguo menurun bahtera raya
Saja terharu memandang simplah
Tersimpan indah yang pakai tak ada
Alangkah sayang bunda dan ayah
Dalam susah mengenang banta
Sedih hatiku melihat peti
Penuh berisi intan permata
Sayang sekali permaisuri
Lalai beruarai air mata
Inang istana Perlak selalu mendendangkan lagu tersebut
untuk Puteri Nurul A’la kecil dengan harapan ketika dewasa ia mengingat isi
pesan tersebut.
Dan setelah dewasa, Puteri Nurul A’la mengingat semua
pesan yang ada dalam syair tersebut. Ia meminta dibuatkan perahu dan pohon
perlak yang tumbuh di Sungai Peunaron.
Karena sudah sudah lama ditunggu-tunggu, permintaan
Pu¬teri Nurul A’la langsung dika¬bulkan.
Setelah jadi, saatnya perahu ditarik namun setelah semua
usaha dikerahkan perahu tidak beranjak dari tempatnya. Puteri Nurul A’la sedih
dan pada malam harinya Ia bermimpi untuk menarik perahu itu ke laut
keponakannya yang bernama Puteri Nurul Kadimah harus dibungkus kain kafan untuk
menjadi bantalan perahu dan perahu itu ditarik dengan sehelai rambut
keponakannya itu.
Setelah bermimpi Puteri Nurul A’la semakin sedih namun
Puteri Nurul Kadimah rela menjadi bantalan mencari kakaknya yang hilang.
Setelah semuanya sepakat. Puteri Nurul Kadimah dibungkus
dengan kain kafan dan ditempatkan di bawah perahu untuk menjadi bantalan
sedangkan Puteri Nurul A’la menarik perahu itu dengan sehelai rambut milik
keponakannya itu sementara orang-orang mendorong dari belakang. Perahu itu
bergerak dan akhirnya sampai ke laut.
Puteri Nurul
Ala diiringi pengawalnya lalu
melaju menuju Jayakarta. Sesampainya di sana
ia langsung diserang dan kalah tetapi sempat melontarkan cincin kakaknya itu
hingga jatuh di depan Raja Jayakarta.
Setelah melihat cincin itu, Raja Jayakarta tahu kalau
puteri cantik itu adalah adiknya. Ia lalu pergi sendiri mengejar adiknya dan
setelah bertemu keduanya tinggal bersama. Puteri Nurul A’la dilamar oleh Berbu
Tapa dan menerima lamaran tersebut dengan syarat Ia harus pulang dulu ke
Perlak.
puteri Nurul
Ala pulang diantar prabu Tapa dan
ketika tiba di Perlak Prabu Tapa disuruh tinggal di kampong Tjek Brek sementara
ia tinggal di Paya Meuligoe. Prabu Tapa menagih janji Puteri Nuru A’la. Puteri
Nurul A’la minta tenggang tiga bulan untuk menyiapkan segalanya. Namun selama
tiga bulan tersebut ia malah mempersiapkan ilmu untuk melawan Prabu Tapa.
Sementara itu, kakaknya setelah tiba di Perlak tidak lama
kemudian mangkat. Mengetahui hal itu, Puteri Nurul A’la takut dan lari ke
Simpang Peunaron di Blang Perak. Prabu Tapa marah dan mengejar Puteri Nurul
A’la yang lari ke Krueng Peunaron. Lubok Pancaningan dan meninggal di sana.
Tidak menemukan Puteri Nurul A’la. Prabu Tapa bertambah
marah dan membunuh setiap orang di Kampung Beuringan karena itu orang-orang
menyebut kampung itu dengan Kampung Teungku di Bungeh.
Telah menjadi catatan para ahli sejarah dan ilmuan
terutama Abu Ishak Al-Makarany Pasy bahwa kerajaan Islam-I-Asia Tenggara adalah
telah didirikan di Peureulak dengan Ibukotanya, Bandar Khalifah.
Baginda Sulthan adalah
turunan dari Dinasti Sasanit Jazirah Arab Persia pada saat itu diperintah oleh
Raja Kisra. Saat itu, dimana seorang Putra dari Dinasti Sasanit Pangeran Salman
meninggalkan Tanah Airnya menuju timur jauh dengan dan Asia Tenggara untuk
berniaga dan berdakwah dengan kapal dagangnya.
Saat pertama adalah tiba dan
berlabuh di Bandar Jeumpa (Aceh Jeumpa) sekarang. Setelah kapal kembali pulang,
Pangeran tidak ikut pulang dan terakhir terpikat dan kawin dengan Putri Jeumpa
bernama Putri Mayang Seuleudang, Puteri dari Meurah jeumpa.
Tiada berapa lama, atas
restu Meurah Jeumpa, Pangeran Salman dan Puteri Mayang Seuleudang berangkat ke
Negeri Peureulak, kedatangannya adalah diterima oleh Meurah Peureulak. Setelah
baginda Meurah Peureulak berpulang ke rahmatullah, Baginda tidak mempunyai anak
laki-laki.
Atas mufakat Pembesar-pembesar
Negeri Peureulak serta rakyat, diangkatlah Pangeran Salman menjadi Meurah
Peureulak yang baru. Dalam masa Baginda menjadi Meurah Peureulak, negeri
menjadi makmur-rakyat sejahtera, ekonomi maju pesat karena hubungan perdagangan
dan kapal-kapal asing ramai berdagang ke negeri Peureulak, terutama membeli
hasil bumi dan rempah-rempah.
Pangeran Salman dan Puteri Mayang Seuleudang mempunyai 4 orang putra dan 1 putri, masing-masing adalah :
- Syahir Nuwi, kemudian menggantikan ayahnya jadi Meurah Peureulak.
- Syahir Tanwi (Puri), kemudian pulang ke negeri Ibunya Jeumpa dan diangkat menjadi Meurah Jeumpa, menggantikan kakeknya yang telah meninggal dunia.
- Syahir Puli, merantau ke Barat (Pidie, sekarang) kemudian di negeri itu diangkat menjadi Meurah Negeri Sama Indra (Pidie)
- Sayhir Duli, setelah dewasa merantau ke daerah negeri barat paling ujung (Banda Aceh, sekarang), karena kecakapannya diangkat menjadi Meurah Negeri Indra Pura (Aceh Besar, sekarang).
- Putri Maghdum Tansyuri
Berdasarkan hal tersebut diatas, secara geografis dan strategis semua negeri di sepanjang Selat Malaka adalah dalam Pemerintahan Para Meurah keturunan. Dinasti Sasanit pihak ayah dan turunan Meurah Jeumpa dari pihak ibu. Di Acheh, anak cucu dari keturunan ke Empat Meurah disebut “Kaom Imum Peut” (Kaum Imam Empat).
Epilog dari turunan dinasti
Sasanit adalah : Pada suatu masa Pemerintahan Daulah Ummayyah, dibawah pimpinan
Khalifah Makmun Ibnu Harun Al-Rasyid, telah menindas Partai Syiah yang dipimpin
oleh Ali bin Abi Thalib.
Salah seorang turunan Ali
bin Abi Thalib, memberontak terhadap Khalifah Makmun yang berkedudukan di Baghdad dan
memproklamirkan dirinya menjadi Khalifah di Mekkah.
Dengan murka, Sulthan Makmun
mengirim pasukan perang untuk memukul mundur Muhammad Jaffar Shiddiq di Mekkah.
Para proklamator tersebut kalah dan tidak
dibunuh akan tetapi dimaafkan.
Seterusnya, Khalifah Makmun memerintahkan kaum Syiah meluaskan dakwah ke negeri Asia Tenggara-Hindie dan Timur Jauh. Atas dasar itulah, sebuah Armada Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang dibawah pimpinan Nahkoda Khalifah (turunan Qatar) memasuki Bandar Peureulak.
Saat itu, yang menjadi
Meurah Peureulak adalah Syahir Nuwi. Salah seorang dari anggota Angkatan Dakwah
Ali bin Muhammad bin Jaffar Shiddiq dinikahkan oleh Meurah Peureulak dengan
adik kandungnya Putri Maghdum Tansyuri.
Dari perkawinan inilah lahir
seorang Putra, oleh kedua orang tuanya diberi nama Sayed Abdul Aziz. Pada
tanggal 1 Muharam 225 H (840 M) dilantik menjadi Raja Kerajaan Islam I Acheh
Peureulak dengan gelar Sultan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Maghdum Shah dan
kawin dengan Putri Maghdum Khadewi.
Dinasti Kerajaan Islam I
Acheh Peureulak adalah mempunyai 19 orang Sulthan mulai dari tahun 840 M-1292 M
antara lain adalah sebagai berikut :
- Dinasti Sayed Maulana Abdul Aziz Maghdum Shah 840 M-864 M pendiri Kerajaan Islam I Aceh Peureulak.
1.1 Sulthan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Maghdum Shah 840 m-864 M pendiri Kerajaan Islam I Acheh Peureulak.
1.2 Sulthan Alaidin Sayed Maulana Abdul Rahim Shah 864-888 M
1.3 Sulthan Alaidin Sayed Maulana Abbas Shah 888 M-913 M
1.4 Sulthan
Alaidin Sayed Maulana Ali Mughayat Shah 915 M-918 M
- Dinasti Maghdum Johan Berdaulat (Shiah) Peureulak pesisir 928-986 M
2.1 Sulthan Maghdum Alaidin Malik Abdul Kadir Shah Johan berdaulat 928 M-932 M
2.2 Sulthan Maghdum Alaidin Malik Muhammad Amin Shah Johan berdaulat 932 M-965 M. Baginda dikenal dengan nama TEUNGKU COT KALA, adalah Pendiri Perguruan Tinggi Zawiyah Cot Kala di (Bayeun) saat ini dengan pendidikan lengkap-agama-filsafat-dan militer
2.3 Sulthan Maghdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat 956-976 M
2.4 Sulthan
Alaiddin Sayed Maulana Shah 976 M-986 M
- Dinasti Maghdum Alaidin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat 986-1292 M.
3.1 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat 986 M-1012 M. Pada tahun 986 M-1006 M, selama 20 tahun Kerajaan Islam Acheh Peureulak berperang melawan aggressor Sri Wijaya, dan pada akhirnya tentara Sri Wijaya menarik diri dari Peureulak karena menghadapi serangan Dharmawangsa dari Pulau Jawa.
3.2 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat 1012 M-1059 M
3.3 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Manshur Shah Johan Berdaulat 1059 M-1078 M
3.4 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Abdullah Shah Johan Berdaulat 1078 M-1109 M
3.5 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Ahmad Shah Johan Berdaulat 1109 M-1135 M
3.6 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat 1135 M-1160 M
3.7 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Usman Shah Johan Berdaulat 1180 M-1173 M
3.8 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Muhammad Shah Johan Berdaulat 1173 M- 1200 M
3.9 Sulthan Maghdum Alaiddin Abdul Jalil Shah Johan Berdaulat 1200 M-1230 M
3.10 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat 1230 M-1267 M. Baginda tidak mempunyai Putera, tapi mempunyai puteri, yaitu :
3.10.1. Puteri Ratna Keumala, dikawinkan dengan Raja Malaka, Sulthan Muhammad Shah atau bergelar Para Meswara
3.10.2. Puteri Ganggang, dikawinkan dengan Sulthan Malik Al-Salih Meurah Siloo-Sultan Negeri Samudera Pasai yang memerintah Pasai 1261 M-1289 M, mangkat pada tahun 1291 M.
Dari
sinilah mulai terbina poros Kerajaan-kerajaan Islam –Kerajaan Islam Aceh
Peureulak – Pasei dan Malaka di Tanah Melayu.
3.11 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Shah
Johan Berdaulat 1263 M-1292 M. Baginda adalah penghabisan Sulthan Peureulak,
karena disatukan Kerajaan Islam Pasei, dibawah pimpinan Sulthan Muhammad Malik
Az-Zahir (Putra Meurah Siloo dengan Putri Ganggang atau cucunda Sulthan Maghdum
Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Berdaulat dari Kerajaan Islam Acheh
Peureulak).
Bila kita kenang kembali,
umur kota Peureulak saat ini adalah 1167 tahun. Setelah Kerajaan Islam
Peureulak disatukan kedalam Kerajaan Islam Pasei, di Peureulak sendiri di
perintah oleh Hulubalang (Ampon Chik) dan yang terakhir adalah Ampon Tjhik Tuha
dan generasi seterusnya adalah Teuku Tjhik Muhammad Thayeb ananda Ampon Tjhik
Tuha atau nenekanda dari Bapak Teuku Hadi Thayeb mantan Gubernur Acheh.
Diseluruh persada bumi Acheh adalah terdapat kerajaan-kerajaan Negeri itu sendiri yang diperintah oleh masing-masing Raja, yang nantinya menjadi suatu mata rantai berdirinya Negara Kerajaan Islam, Acheh Darussalam, antara lain adalah :
- Kerajaan Islam I Acheh Peureulak 840 M-1292 M
- Kerajaan Islam Samudera Pasai, Sulthan yang pertama adalah Maharaja Muhammad Shah 1042 M-1078 M (Kerajaan Salasari)
- Kerajaan Islam Beunua Teuming, dengan Raja I adalah Meurah Gajah 1184 M-1203 M dan yang terakhir adalah Pendekar Sri Meungkuta dari Alas 1528 M-1558 M.
Wilayah Kerajaan Islam Teuming adalah meliputi – Teumig Negeri Alas - Negeri Isak (Gayo).
- Kerajaan Pidie (Shahir Puli) dan Sama Indra dengan sulthannya adalah Sulthan Maarif Shah Baginda mangkat 18 Spetember 1951 M-Nisan-Keulibeut Pidie.
- Kerajaan Islam Acheh Indera Purba (Lamuri) Darussalam – Sulthan I adalah Sulthan Alaidin Shah 1205 M- 1273 M
- Kerajaan Islam Meureuhom Daya – 1205 M dengan Sulthan I adalah Alaiddin Johan Shah di Daya Lam No (Aceh Barat).
Jelaslah kepada kita semua bahwa, penyatuan Kerajaan-kerajaan Islam Aceh di bumi persada Aceh adalah pertama telah dilakukan dari zaman dahulu kala dengan sistem masing-masing kerajaan adalah mengatur negeri dan pemerintahannya masing-masing, baik Sipil dan Militer (Pertahanan) dan mengangkat perangkat pemerintahannya.
Hal tersebut diatas adalah sama dengan praktek Tata Negara yang dilakukan di Benua Amerika, Inggris-Eropa dan Malaysia saat ini. Amerika dengan sistim Negara Bahagiannya, Inggris dengan sistem Negara persemakmurannya (Commonwealth) dan Malaysia dengan Negara Bahagiannya dimana Kepala Negeri adalah Sulthan dan Yang Dipertuan Agung sebagai Malikul Adilnya.
Ini kesemuanya, telah dipraktekkan dalam atur Tata Negara Kerajaan Islam Aceh dan ini berarti juga bahwa peradaban Bangsa Aceh ada setelah Peradaban bangsa Eropa.
Demokrasi adalah telah
tumbuh subur dipraktekkan dalam kerajaan Islam Acheh di seluruh Bumi Acheh.
Kini jelaslah kepada kita bahwa - Kerajaan Islam –I – Asia Tenggara (Peureulak) dimulai pada 840 M sampai dengan Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Shah Johan berdaulat adalah terakhir tahun 1292 M. Artinya, Dinasti Islamiyah di Peureulak telah Berjaya selama 452 tahun lamanya.
Selanjutnya, seluruh Kerajaan disatukan menjadi Kerajaan Islam Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Sultan Alaidin Mahmud II Johan Shah – 1205 – 1234 M – Baginda adalah Sulthan – Pertama – Kerajaan Aceh Darussalam – masih keturunan Sulthan – Kerajaan Islam – I – Peureulak – Dinasti – Sayed Maulana.
Kerajaan Islam Aceh Darussalam diawali pada tahun 1205 M sampai dengan Sulthan Alaiddin Muhammad Daod Shah II – 1873 – 1907 M atau s/d masuknya Jepang 1942 – kemudian Aceh melawan Belanda sejak 1873 s/d 1941 masuk jepang = 69 tahun Aceh berperang dengan Belanda, maka usia Dinasti Islamiyah di Aceh adalah berkuasa dari I Muharam 840 M s/d 1941 =1101 tahun lamanya.


0 comments:
Post a Comment