header

header
aceh
  • Latest News

    Sunday, February 7, 2021

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang dari Aceh

    – Teungku Fakinah adalah tokoh perempuan yang punya kontribusi besar dalam sejarah Indonesia. Beliau adalah salah seorang panglima perang dari Aceh.

    Kurang mengenakan rasanya jika

    membahas sejarah Indonesia tanpa membahas perjuangan perempuan yang mempunyai pengaruh besar terhadap kemajuan kaum perempuan dan kemerdekaan Indonesia. Perempuan-perempuan Indonesia telah mengukir sejarah atas perjuangan yang dilakukan dalam melawan penjajahan dan membangun pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah Teungku Fakinah, seorang ulama dan panglima perang dari Aceh.

    Keluarga Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah lahir pada tahun 1856 di kampong Lam Beunat, Mukim Lam Krak, VII Mukim Baet, Sagi XXII Mukim, Aceh Besar. Teungku Fatkinah dilahirkan dari keluarga yang religius, Putri dari Teungku Datuk dan Teungku Fathimah. Teungku Datuk merupakan seorang pejabat pemerintahan pada zaman Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah (1823-1836). Sedangkan ibunya adalah Teungku Fathimah, salah satu seorang ulama besar yang bernama Teungku Muhammad Sa’ad seorang pendiri dayah Lam Pucak.

    Menurut Jajat Burhanudin dalam bukunya “Ulama dan Kekuasaan”, Dayah berkontribusi bagi perkembangan keagamaan seperti telah dilakukan oleh surau dan pesantren. Ulama dayah mengajarkan Islam yang telah dikontekstualisasikan dengan kehidupan pedesaan penduduk Aceh, dan secara perlahan membimbing mereka mempraktikkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ulama dayah dipercaya memiliki kekuatan spiritual untuk mendapatkan berkah atau kutukan, dan memiliki kekuatan untuk menyebabkan sakit atau kesembuhan.

    Kehidupan Masa Kecil dan Remaja Teungku Fakinah

    Teungku Fatkinah semasa kecilnya mendapat pendidikan agama dari orang tuanya.Ibunya mengajari membaca Al-Quran, membaca dan menulis bahasa Arab, serta ilmu-ilmu agama Islam. Ibunya juga mengajari menjahit, menenun, menyulam, memasak, dan membuat kerajinan kerrawang sutera. Ayahnya mengajarinya bahasa arab, ilmu fikih, tasawuf, sejarah, tafsir dan hadist.

    Menginjak usia remaja, pada tahun 1872, Teungku Fakinah menikah dengan seorang ulama muda yaitu Teungku Ahmad. Teungku Fakinah memulai kiprahnya dalam bidang pendidikan dengan membangun dayah yang didirikan oleh orang tuanya. Bersama Teungku Ahmad, Teungku Fakinah mengelola dan mengajar di dayah. Para pelajar yang yang belajar di dayah ini mencapai seribuan dari berbagai di sekitar Aceh Besar, bahkan ada juga yang datang dari Pidie.

    Tak hanya sebagai pendidik di dayah, Teungku Fakinah juga ikut berjuang melawan penjajah belanda yang ingin menguasai Aceh. Posisi Teungku Fakinah dalam perjuangannya melawan Belanda tidak hanya sebagai prajurit biasa, Teungku Fatimah menjadi Panglima Perang melawan penjajah Belanda. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Perempuan-Perempuan Pengukir Sejarah karya Mulyono Atmosiswartoputra.

    Perlawanan Teungku Fakinah Terhadap Penjajah Belanda

    Pada tahun 1873 berita mengenai Belanda akan menyerang Aceh semakin terasa. Sultan Alaiddin Mahmud Syah (1870-1874) mempersiapkan perlawanan kepada Belanda jika sewaktu-waktu Belanda datang menyerang, dengan melatih para pelajar laki-laki di pusat-pusat pendidikan Islam, termasuk santri-santri dari dayah Lam Pucak, untuk memanggul senjata dan digembleng untuk siap bertempur jika sewaktu-waktu berhadapan dengan musuh.

    Pada hari sabtu, 22 maret 1873 komisaris Pemerintah Belanda Nieuwenhuijzen berlabuh di sebelah barat sungai Aceh, untuk berunding dengan Sultan Aceh mengenai tujuannya ingin menguasai Aceh secara damai tanpa peperangan yang memakan biaya yang sangat banyak. Namun dengan segala daya dan upaya yang dilakukan oleh Nieuwenhuijzen gagal. Sebagai langkah akhir, pada 26 maret 1873 Nieuwenhuijzen mengirim surat pernyataan perang terhadap Kesultanan Aceh.

    Sultan Alaiddin Mahmud Syah tidak gentar menghadapi tantangan Belanda. Bagi sultan Alaiddin Mahmud Syah, lebih baik mati daripada menggadaikan Tanah Airnya. Ia pun memerintahkan kepada seluruh rakyat Aceh untuk bersiap melawan Belanda.

    Pasukan Aceh yang telah mempersiapkan diri menghadapi serangan musuh untuk mempertahankan kedaulatan Tanah Airnya, siap bertempur dimedan perang. Beberapa pasukan Aceh telah memperkuat pertahanan di pantai Cermin laut Ulee Lheue, agar ibo kota Aceh terlindungi dari serangan musuh. Teungku Ahmad suami Teungku fakinah turut ikut dalam barisan tersebut bersama pasukan pemuda pelajar dayah Lam Pucak yang dipimpin oleh panglima Polem Nyak Banta.

    Pendaratan tentara Belanda di pantai Cermin disambut dengan perlawanan yang dahsyat oleh pasukan Aceh. Pertumpahan darah dari kedua kubu tersebut tidak dapat dihindari. Pertempuran yang terjadi pada 8 April 1873 menewaskan beberapa panglima dan beberapa perwira perang Aceh, termasuk suami dari Teungku Fakinah yaitu Teungku Ahmad gugur dalam peperangan tersebut.

    Sepeninggalan suaminya, Teungku Fakinah tampil menggantikan kedudukan suaminya. Beliau meneruskan perjuangan suaminya untuk melawan para penjajah Belanda dengan membentuk barisan yang anggota-anggotanya adalah perempuan, terutama para janda yang suaminya telah gugur dalam peperangan. Barisan ini mempersiapkan konsumsi dan pertolongan medis bagi para pejuang Aceh yang terluka. Sebagian anggota ini juga aktif membantu pejuang laki-laki menuangkan timah untuk membuat peluru.

    Barisan yang dipimpin Teungku Fatimah tersebut mendapat dukungan dari kaum muslimat di sekitar Aceh Besar, yang kemudian berkembang sampai ke Pidie. Untuk mengumpulkan bantuan keuangan dan kebutuhan pokok lainnya yang diperlukan untuk mendukung perjuangan melawan Belanda, beliau berkordinasi dengan para tokoh masyarakat, orang kaya, dan pihak-pihak terkait.

    Rakyat Aceh yang telah telah berjuang mempertahankan Kutaraja (Banda Aceh), tetap tidak mampu menahan serangan musuh. Kutaraja Akhirnya dapat dikuasai Belanda. Sultan Alaiddin Mahmud Syah tetap melakukan perlawanan terhadap belanda dengan memerintahkan kepada rakyat Aceh untuk membentuk pasukan-pasukan sukarela. Teungku Fakinah menggunakan Menggunakan kesempatan ini untuk membentuk sebuah pasukan bersama yang bernama sukey (resimen) yang terdiri dari atas empat balang (batalion), setiap balang menempati satu kuta (benteng pertahanan). Keempat balang yang menempati kuta-kuta tersebut, semua di bawah komandonya. Teungku Fakinah bertindak sebagai panglima sukey (komandan Resiman).

    Kuta-kuta tersebut dibangun oleh oleh kaum laki-laki, kecuali kuta Cot Weue. Kuta Cot Weue dikerjakan oleh para perempuan, mulai dari membuat pagar, menggali parit, dan pemasangan ranjau. Setelah membentuk sukey dan selesai membangun Kuta Cot Weue, Teungku Fakinah yang telah menjanda setelah dua tahun, hendak dijodohkan dengan Teungku Nyak Badai dari Pidie. Tujuannya adalah untuk menghindari fitnah karena beliau merupakan satu-satunya panglima perempuan diantara panglima lainnya.

    Dalam pandangan masyarakat umum, tidak layak dalam suatu perundingan seorang perempuan tidak didampingi oleh suaminya. Oleh karena itu, Teungku Fakinah tidak berkeberatan dijodohkan dengan Teungku Nyak Badai sehingga pernikahan keduanya pun dilangsungkan. Setelah menikah, beliaubertambah giat dalam berjuang. Ia berusaha mengumpulkan perlengkapan persenjataan dan makanan untuk keperluan tentaranya.

    Pada tahun 1893 dan 1895 pertarungan kembali melawan Belanda terjadi. Pertarungan sengit antara pasukan Aceh dengan tentara Belanda menelan banyak korban dari kedua belah pihak, Seriring dengan gugurnya para panglima dan terlepasnya daerah Cut Weue ke tangan musuh, Teungku Fakinah kemudian membangun basis perlawanan baru di daeraah Ulee Tanoh.

    Pada 3 Juni 1896, pasukan Belanda yang berada di bawah pimpinan Kolonel J. W. Stempoort menyerang Lam Krak dan beberapa kuta yang menjadi binaan Teungku Fakinah. Belanda berhasil mengambil alih satu persatu basis pertahanan Teungku Fakinah. Namun, pasukan Belanda juga harus membayarnya dengan bayaran yang mahal, yakni tewasnya perwiraa-perwira mereka oleh tangan-tangan perempuan perkasa. Dengan jatuhnya benteng pertahanan ke tangan Belanda, akhirnya beliau membangun basis perlawanan lagi Cot Piring.

    Pada 17 Juni 1896, Belanda menyerang dan meluluhlantakkan Montasik. Pada saat yang bersamaan, pasukan Letnan Kolenel J. b Van Heutsz mengepung daerah Anak Galung. Saat itu, beliau masih bertahan di Cot Ukam. Pada agustus 1896 ia mundur ke kawasan Gleleung, lalu ke Inderapura. Namun dalam persembunyiannya itu, Teungku Nyak Badai, suaminya mangkat karena diserang harimau.

    Setelah kawasan Seulimum jatuh ke tangan Belanda, Teungku Fakinah kemudian mengungsi ke Lammeula (Cubok), kemudian tinggal di Tiro. Setelah itu, ia kemudian pindah ke Tangse dan membangun tempat tinggal di Blang Peuneulen (Pucok Peuneulen). Semua sisa harta benda, emas, dan perlengkapan senjata diangkut ke daerah tersebut. Di tempat yang subur tersebut beliau membangun pondok pesantren sebagai tempat pengajian bagi para perempuan.

    Pada April 1899 kampung tersebut diserang Belanda. Tempat tinggal Teungku Fakinah diobrak-abrik, dan sebagian emas miliknya diambil oleh serdadu Belanda. Namun Teungku Fakinah berhasil lolos dari kepungan serdadu Belanda. Kemudian beliau bergeriliya bersama anak buahnya dan perempuan-perempuan lainnya dari satu tempat ke tempat lain di sekitar Laut Tawar.

    Sejak saat itu, Teungku Fakinah tidak lagi membuat kuta (benteng) dan tidak lagi memegang peranan sebagai panglima perang, namun beliau tetap aktif dalam bidang pendidikan agama, terutama mengajar perempuan-perempaun yang turut bergerilya.

    Setelah belanda berhasil menawan beberapa pemimpin Aceh, pada 1910 Teuku Panglima Polem Muhammad Daud menganjurkan kepada Teungku Fakinah agar kembali ke kampung halaman untuk membuka kembali dayah di Lam Krak. Pada 1911 beliau kembali ke Lam Krak dan membangun kembali dayah yang telah porak poranda selama kurun waktu berperang. Tujuannya membangun kembali dayah agar orang-orang tidak menjadi kafir.

    Pembangunan dayah yang dilakukan Teungku Fakinah disambut positif oleh masyarakat. Setelah dayah berdiri, banyak orang yang datang untuk belajar mengaji di pesantren tersebut. Mereka datang dari berbagai penjuru Aceh. Kebanyakan dari mereka yang datang adalah para janda dan para gadis, ada juga santri laki-lakinya.

    Setelah pesantren berjalan dengan lancar, pada 1914 Teungku Fakinah menikah dengan Teungku Ibrahim, yang menjadi suami ketiganya. Setelah memiliki suami, beliau berangkat ke tanah suci Makkah bersama suaminya. Selesai melaksanakan ibadah haji, Teungku Fakinah dan suaminya menuntut ilmu pengetahuan, sekaligus memperdalam ilmu fikih di Makkah dan Madinah.

    Pada 1918 suaminya meninggal dunia di Makkah. Sepeninggal suaminya, Teungku Fakinah kembali ke Aceh. Kemudian beliau memimpin kembali pesantrennya. Selama tinggal di Makkah, sempat berjumpa dengan pemimpin-pemimpin Islam dari Mesir, Afrika Utara, dan Negara lainnya. Dari hasil perbincangan dengan mereka, Teungku Fakinah Berkesimpulan bahwa untuk melawan penjajah tidak cukup dengan senjata saja, tapi juga harus dilengkapi dengan ilmu pengetahuan.

    Pada tahun 1925 Teungku Fakinah kembali ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji yang kedua kalinya. Ia juga sempat bermukim disana selama satu tahun. Pada 3 Oktober 1933 Teungku Fakinah menghembuskan nafas terakhir di rumah kediamannya di Lam Krak.

    Teungku Fakinah semasa hidupnya, selain dikenal sebagai seorang ulama, pendidik, dan panglima perang, juga dikenal sebagai seorang pemimpin yang sanggup menggerakan rakyat untuk membangun perkebunan dan kampung-kampung yang hancur akibat peperangan yang panjang. Tidak hanya masyarakat Aceh saja yang hormat kepadanya. Bahkan para pejabat tinggi Belanda pun turut memberikan penghargaan kepadanya dengan cara mengunjungi pesantrennya.



    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang dari Aceh Rating: 5 Reviewed By: Jass
    Scroll to Top