header

header
aceh
  • Latest News

    Thursday, February 11, 2021

    ULE BALANG NISAM

    Sebagai salah seorang perintis pergerakan kemerdekaan Indonesia dari Aceh. Ia lahir pada tahun 1891 di Keude Amplah, Nisam, (dulu Naggroe Nisam), Aceh Utara. Ia salah satu putra Uleebalang Nanggroe Nisam.

    Berdasarkan data dari arsip Masjid Besar Bujang Salim, dijelaskan bahwa pada tahun 1912, Bujang Salim menyelesaikan pendidikan kelas lima pada Kweekschool dan Osvia (sekolah Belanda) di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.Lalu ia dipanggil pulang ke Aceh,selama setahun tinggal di Kutaradja (Banda Aceh) untuk mempelajari dan mempraktekkan Tata Kepamong Pradjaan.

    Setahun kemudian (1913), Bujang Salim ditunjuk menjabat sebagai Zelfbstuurdier Nanggroe Nisam sampai tahun 1920. Selama menjabat, ia sering melakukan aktifitas di bidang politik dan keagamaan. Aktifitasnya itu mengundang kekhawatiran pihak Belanda yang saat itu menjajah Indonesia.

    Pada 8 Februari 1921, Bujang Salim dipecat dari jabatan itu dan diasingkan ke Meulaboh oleh Belanda. Pada 21 April 1922, ia dibuang ke timur Indonesia yaitu Meurauke. Selama di sana, Bujang Salim juga melakukan aktifitas pendidikan dan keagamaan yang merupakan suatu kegiatan bertentangan dengan perpolitikan Belanda ketika itu.

    Itu sebabnya, Bujang Salim lalu dibuang ke daerah Tanah Merah (Digul) pada 5 April 1935. Digul adalah tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan. Letaknya di dekat sungai Digul hilir, Papua.

    Berikutnya, di masa serbuan Jepang, tepatnya 11 Mei 1942, Bujang Salim kembali diungsikan. Awalnya, ia diungsikan ke hutan Bijan, kemudian dikembalikan lagi ke Meurauke. Pada 3 November 1942, ia kembali dibawa pulang ke Tanah Merah.

    Pertengahan tahun 1943, atas anjuran Van Der Plas pemerintahan interniran Belanda, mengangkut semua orang buangan untuk diungsikan ke Australia, termasuk Bujang Salim. Tiba di Mackay, Australia, 5 Juni 1943.

    Akhir tahun 1945, pemerintah interniran Belanda memerdekakan orang-orang buangan tersebut dan dijanjikan akan dipulangkan ke masing-masing tempat asal. Pada 7 Oktober 1946, Bujang Salim dan rombongan eks buangan diberangkatkan dengan kapal barang tentara sekutu dan tiba di Jakarta, 14 Oktober 1946.#1

    Ia dimasukkan ke kamp Chause Complex, satu bulan kemudian, anggota rombongan lainnya diberangkatkan ke Cirebon dan diserahkan pada pemerintah Indonesia. Sedangkan Bujang Salim, karena anaknya sakit keras, tidak jadi diberangkatkan sampai empat bulan lamanya.

    Bujang Salim kemudian berhubungan sendiri dengan pemerintah Indonesia di Pegangsaan Timur dan dibolehkan berangkat ke Purwokerto. Pada 15 Februari 1947 oleh Kementrian Dalam Negeri di Purwokerto, dipekerjakan di sana sementara menunggu kapal yang berangkat dari Cilacap menuju Sumatera. Karena Agresi I Belanda pada 31 Juli 1947, ia dan keluarga terpaksa mengungsi ke lereng-lereng gunung Slamet (Jawa Tengah) selama enam bulan.

    Pada Maret 1948, ia ditangkap oleh satu pasukan patroli Belanda dan ditahan untuk diperiksa. Dua hari kemudian ia dilepaskan dan dengan dasar janji Belanda di Australia dulu, ia dibawa ke Medan (Sumatera Utara, tiba 20 April 1948.

    Pada Februari 1950 dengan bantuan Gubernur Aceh ketika itu, Bujang Salim diberangkatkan ke Kutaradja (Banda Aceh). Lalu, 31 Juli 1950 ia pulang ke Krueng Geukuh, yang saat itu berada dalam Nanggroe Nisam. Bujang Salim akhirnya meninggal dunia pada Rabu, 14 Januari 1959. Ia dikebumikan di Krueng Geukuh, tepatnya belakang Masjid Besar Bujang Salim.

    Arsip yang menjelaskan sejarah Bujang Salim ini disalin ulang oleh Mapilindo, cucu urutan ketiga.***(stempel /cap negeri ule balang nizam T mahmud)

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: ULE BALANG NISAM Rating: 5 Reviewed By: -
    Scroll to Top